Gang buntu (?) Part 1

Terbilanglah sebuah gang yang ramai, padat, dihuni oleh orang-orang yang senang bersosialisasi dan "berbagi". Tak ada kata lain untuk mendeskripsikan gang tersebut.  Ditakuti, dihindari, bahkan dianggap ngeri oleh para penduduk gang lainnya (penduduk gang yang baik-baik, ya). Namun disenangi, didatangi, bahkan sering dikunjungi oleh penduduk gang lain yang sekedar ingin "melihat-lihat", melakukan "transaksi"(?). Hmmm. Baiklah, sebut saja, gang buntu.

Bukan karena penduduknya berotak buntu, bukan pula hatinya sudah buntu. Tapi memang gang ini terlalu cepat menemukan ujung jalannya, maka dikatakan buntu.

Satu hal yang menjadi pertanyaan, kenapa ketika nama gang buntu disebut, seakan-akan ditakuti oleh penduduk gang lainnya?

Gang buntu ini terkenal, bahkan lebih terkenal dari aktris dangdut ibukota.
Gang buntu ini ramai, tapi jarang damai.
Keadaan disekitar gang susah untuk kondusif. Terkadang penghuninya cenderung ekspresif. Apalagi ketika terjadi masalah. Masalah pribadi tentunya.

Tak percaya? Buktikan sendiri. Sebelum tidur, kau pasti akan mendengar berita baru setiap harinya. Kau akan cenderung menunggu-nunggu, "Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Sampai-sampai kau akan heran, jika sehari saja kau tak mendengar teriakan, celotehan, repetan para tetangga yang bersuara besar karena masalah pribadinya. Sampai kau akan berpikir,"Alhamdulillah sehari aman." Ah, ya. Mungkin karena penduduk gang ini senang berbagi. Jadi kalau saja terjadi masalah, mereka cenderung berbagi dengan banyak orang. Untuk meluap kemarahan, atau sekedar menjadi tontonan.

-bersambung-

Komentar

Postingan Populer