Hijab dan Akhlak

Jangan salahkan apa yang aku pakai,
                             namun salahkanlah diriku yang tak menjaga akhlak ini...

Oke, kali ini aku bakal ngebahas tentang sesuatu yang sekarang lagi banyak diperdebatkan di dunia persilatan (?)
Kamu tahu hijab syar'i? Itu loh, pakaian muslimah yang sebenar-benarnya sesuai syariat Islam, ada dalam Al Qur'an juga hadist, yaitu:
-kain kerudung yang menutupi dada,tebal (QS An Nur : 31)
-pakaian jilbab (gamis) yang longgar dan gak menerawang (QS Al Ahzab :59)
-kaus kaki (karena kaki juga aurat ya gaesss!)
Udah pada tau, kan? Oke, kalau gitu aku akhiri aja *loh? Hahah.
Jadi gini, suatu hari aku dan beberapa teman lain ngebuat video "Dubsmash". Tau kan aplikasi yang sempat booming itu? Nah, setelah direkam, aku upload ke instagramku, di dalam video itu aku menari-nari gak jelas serasa dancer profesional gitu. Nah besoknya tiba-tiba ada teman sekelas yang...
T = teman sekelas
A = aku
T: Mil, kau nggak malu?
A: malu? Malu kenapa?
T: itu loh kan kau upload ke insta video yang kemarin. Kan kerudungmu udah besar. Kemarin si .... bilang.... (sengaja nggak aku jelasin kata-katanya)
A: *diam merenung* kan pose aku nggak yang terlalu macem-macem.
Aku memang agak lasak (susah diam) kalau sudah semangat dan kesenangan suka lepas kendali, tapi jujur pose aku nggak terlalu macem-macem. Kalau nggak percaya, lihat aja sendiri.
Pada saat itu aku tersinggung dengan dalih "kenapa harus dihubung-hubungkan dengan kerudungku?"
Lalu ada satu kejadian yang mungkin kelewatan batas dan salah seorang teman yang kurang dekat, yang memang "judgmental person" seperti "menamparku" dengan kata-katanya. "Mila, what is the function of this!?" Katanya sambil menunjuk ke kerudungnya. Di saat itu juga aku sadar. Memang terkadang, kata-kata yang frontallah yang dapat menyadarkan kita. Thanks to you, even if you are rude but that means you are care.
Oke, lalu aku sering baca di postingan tentang korelasi antara hijab dan akhlak. Banyak yang berkomentar bahwa hijab tidak ada hubungannya dengan akhlak.

Memang benar, hijab dan akhlak seseorang itu adalah dua hal yang berbeda. Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslimah, itu sudah merupakan perintah-Nya, namun akhlak adalah sifat dari seseorang yang bisa jadi ujian bagi dirinya. Seseorang yang menutup aurat belum tentu telah sempurna. Kalau gitu, berarti untuk menutup aurat harus sempurna dan terhapus dari dosa dong? Kalau gitu, gak ada yang mau nutup aurat dong? Misalnya, seorang muslimah yang telah berhijab syar’i namun masih pecicilan dan suka tertawa terbahak-bahak.

Kita tak bisa menyalahkan kerudungnya, namun salahkanlah ia karena kurang menjaga akhlaknya. Namun, seorang muslimah juga tidak boleh melakukan pembenaran dengan mengatakan bahwa “menutup aurat dan akhlak tidak boleh dikait-kaitan”. Hal itu salah, dan merupakan pembenaran terhadap sikap tidak baiknya, alhasil malah seperti orang yang tidak mau dinasehati. Seorang penutup aurat harusnya telah mengetahui batasan-batasan dalam Islam. Harusnya muslimah yang baik dan taat mulai mengurangi perilaku yang tidak baik itu (merasa tensindir -_- *menampar wajah sendiri*) Dengan menutup aurat, lama kelamaan dirinya pasti akan mulai berubah. Dengan kata lain, malu sendiri dengan perbuatan tercelanya. Misalnya dengan tidak lagi suka bermain-main dengan laki-laki atau menyentuhnya. Karena ketika ia menutup aurat, secara otomatis pasti ada dinding yang membatasi antara dirinya dengan perbuatan tercela itu.

Memang sih, dulu aku sempat mikir kalau mereka yang pakai pakaian syar'i ini haruslah anggun, kalem, lembut, bernada suara rendah. Jujur aku ngelihat orang-orang yang seperti itu ngerasa tenang, damai dan rasanya pengen ngajak nikah aja *eh

Lalu setelah aku mulai menetapkan diri untuk hijrah dengan memakai pakaian syar'i, aku pun jadi sedikit pendiam dan mencoba untuk kalem. Gaesss yang lucunya, cara jalanku jadi sedikit feminim (biasanya lebar-lebar langkahnya, eh tiba-tiba langsung agak rapat -_-) Cara bicaraku juga agak sedikit ayu. Nadanya pelan sambil menunduk gitu kalau mau ngomong, ah pokoknya unyuable lah.

Setelah beberapa lama mencoba untuk kalem dan anggun, ternyata aku nggak bisa. Susah rasanya. Itu bukan aku yang sebenarnya. Tiap kali mencoba untuk kalem, rasanya leher belakangku sakit, pegal gitu. Entah karena apa, hahah.
Akhirnya sekarang aku kembali ke Mila yang biasa, tanpa sok kalemnya, sok anggunnya dan sok lembutnya.

Untuk menjadi sempurna adalah hal yang mustahil, ku akui aku memang bukanlah orang yang kalem, anggun, lembut seperti persepsi orang lain. Aku hanyalah muslimah biasa yang tidak sesuai persepsi orang lain selama ini. Aku menutup aurat namun belum tentu aku sempurna. Aku ingin menjadi lebih baik dengan menuruti apa yang diperintahkan-Nya. Setiap manusia punya potensinya masing-masing, begitu pun aku. Maka aku selalu mencoba untuk menjaga potensi yang ada di diriku dan tetap pada koridor-Nya :’D hahah. Jangan segan-segan untuk mengingatkanku atas perbuatan yang tidak seharusnya, karena aku manusia biasa yang sedang mencoba untuk menjadi bidadari surga *assseeek! :’D

Komentar

Postingan Populer