Bahagia Itu Sederhana
Nggak ada yang lebih menyenangkan
dari ketemu sahabat yang udah lama nggak jumpa.
Kemarin kita bertiga akhirnya
bisa ngumpul dan ketawa lagi. Setelah sekian lama rencana demi rencana disusun
dari Hari Raya Imlek untuk jumpa berempat, tapi nyatanya kita cuma bisa ngumpul
bertiga aja karena Cepu yang lagi di Malang. Ah sungguh malang si Cepu ini :D
Jam 20.00 mereka berdua datang
dan Alhamdulillah nggak ngaret kayak biasanya (hihih :P) Lalu berangkat ke
rumah makan yang bikin kenyang, bukan rumah makan yang sinyal Wifinya kuat, ya!
Cerita, curhat, ketawa semua yang dilakukan serasa bikin nyaman. Untuk
berkumpul nggak perlu tempat yang mewah dan mahal. Cukup rumah makan seafood pinggir jalan dengan menu biasa
dan obrolan sederhana. Dan berkumpullah tiga jomblo kelaparan ini. Nggak ada
main gadget atau semacamnya pas lagi cerita. Nggak ada diam-diaman karena
kehabisan bahan cerita. Disaat berjumpa, walaupun penampilannya udah berbeda
tapi nggak ada yang berubah, mereka tetap apa adanya.
Semuanya tetap sama, Naomi, si
boru Hutapea yang sekarang ini udah kayak sekretaris profesional yang makin
cantik dengan rambut ikal pirangnya tetap keibuan dan masih sering galau
gara-gara masalah cinta :P Albert, cowok Cina yang sekarang ini kerja di toko
sulap makin gaya dengan rambut boy bandnya
juga nggak berubah dengan sikap sok coolnya
:P
Sepulang makan rasanya nggak puas
main barengnya dan nggak mau pisah. Albert traktir aku dan Naomi es krim dan
makannya di depan Indomaret sambil liat kanan kiri cerita sana sini di atas sepeda
motor masing-masing, di bawah langit malam dihembus angin pertanda hujan sambil
ngelihati mobil yang lewat (tsaaaahhh :’D) BAHAGIA ITU SEDERHANA :’D
Iya. Ternyata bahagia itu
sederhana. Sesederhana bersahabat dengan manusia gilak yang berbeda karakter
dan agama, tapi masih tetap menghormati sahabatnya. Sesederhana obrolan dan
ketawa bareng. Sesederhana makan es krim tengah malem. Sesederhana
gilak-gilakan dan lupa untuk kalem.
Bahagia itu….. Sederhana.




Komentar
Posting Komentar