Gempa

Ada hal yang cukup menarik yang mengusik pikiran setelah beberapa pekan kota Medan terus-terusan diguncang gempa. Bukan perkara yang biasa saja memang, tapi dalam satu hari kota Medan telah bergoyang sebanyak 4 kali. Apakah itu pantas disebut biasa? Yang lebih tidak biasanya lagi ketika si gempa datang menyapa pada waktu-waktu saat manusia seharusnya sedang tertidur merangkai-rangkai mimpi. Ia datang diantara jam 11, 12 bahkan jam 3 dan 4 pagi.

Sempat mengusik pikiran juga, dengan mencoba untuk menerka-nerka maksud Tuhan mengguncang kota ini sampai beberapa kali, berturut-turut. Adakah unsur dibaliknya selain alasan ilmiah dan penuh data dari BMKG? Ini membuatku teringat pula pada kisah Nabi Shaleh dan kaum Tsamud yang diazab Allah dengan guntur dan gempa bumi yang kuat hingga mereka binasa tak bersisa. Tahukah penyebab kebinasaan mereka? Zalim tak beriman pada Allah. Sudah zalim, bodoh pula. Lemah pula, ringkih pula. Tapi sombong, sok memiliki.

Lemahnya manusia ini, tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Ringkih tubuh itu, disentuh gempa beberapa detik sudah lari ngacir ke luar rumah.

Itu artinya, sekuat-kuatnya manusia, tak ada yang mampu menandingi ke-Maha-anNya. Sehebat-hebatnya pengakuan manusia di mata manusia lainnya juga tidak mampu mengalahkan pengakuan manusia terhadap Tuhannya. Betapa hebatnya Dia. Lemahnya kita.

Sungguh,
Betapa Allah di atas segalanya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer