Surat Untukmu

Malam itu, tawaku berubah duka tatkala kabar berhembus bahwa ayah Naomi meninggal dunia. Langsung kuambil HP, ku tanya apakah benar atau tidak. Ku bbm, ku sms, ku telpon dia berkali-kali. Tapi tak kunjung dapat jawaban darinya.

Naomi, sahabat SMA ku, sahabat yg sayang pada ayahnya. Ayahnya yg sakit-sakitan terbujur di atas ranjang selama beberapa bulan ini. Sakit ayahnya yg telah sembuh lalu kambuh lagi, hingga kemarin tgl 21 Mei 2016 ayahnya berpulang.

Paginya, tak ada balasan darinya. Cemas, kutelpon dan diangkat.

Suaranya lirih, lembut, lemas tak sesemangat biasanya. Suaranya menandakan ia lelah. Lelah karena menangis. Serak basah rendah tak seperti biasanya. Duhai Naomi, mana suara indahmu yang dipuji banyak orang?

Mendengar berita duka ini langsung darinya, aku dan beberapa teman merencanakan untuk datang ke rumahnya.

Dengan pakaian serbah hitam, jam 20.30 WIB kami sampai di rumahnya. Bendera merah berkibar di gang rumah. Papan bunga berdiri tegak mengucapkan turut berduka. Begitu sampai, aku dan 3 teman lainnya berdiri di depan rumahnya. Tatapan tertuju pada kami, dimana 2 diantara kami memakai jilbab. Tapi tak apa bukan? Entahlah.

Bejibun org di dalam rumahnya, Naomi tak nampak. Berhubung ia Kristen, mungkin ada adat tersendiri yang dilakukan.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami dipersilahkan masuk. Pemandangan yang menyedihkan dan menyayat hati. Alih-alih menyambut dan melihat kami, dia bahkan tak sempat. Naomi pingsan. Tatapannya kosong, ia terkulai lemas bagai tak bertulang. Dikipas dan diurut beberapa ibu-ibu. Keringat bercucuran dari keningnya, napasnya berat. Sesak dadanya, katanya. Ternyata kemarin pun dia telah dirawat di rumah sakit karena nge-drop.

Bagaimana tidak? Dia di Prapat sejak tanggal 18 lalu, mengikuti lomba paduan suara. Lalu ia dapat berita duka seperti ini. Betapa hatinya takkan terpukul.

Naomi, kuatlah. Naomi, sadarlah.

Sedih melihatnya seperti ini. Mencoba untuk menghiburnya, saat ini memang bukan saat yang tepat. Untuk mengatakan,"sabar, Mi. Yang tabah, Mi" air mata sudah mengepul di mata. Pada akhirnya yang ia katakan,"Bapakku udah nggak ada."

Opungnya (Nenek) lalu menasehatinya, "jangan gini nak, kita punya Tuhan! Kita punya agama. Ini udah jalannya. Ayahmu sudah tenang disana. Jangan dipikir-pikirkan, nanti yang ada setan yang menguasai." Lalu kening Naomi dipukul-pukul dibacai doa agama mereka.

Tapi yang anehnya, air matanya tak ada.

Mungkin, air matanya telah kering. Telah habis, namun hatinya pasti teriris. Ia seperti orang yang tak ku kenal. Tatapannya yang kosong, badannya lemas, bahkan ia tak sanggup untuk berdiri. Naomi, bersabarlah.

Ia tak mau makan. Lalu disuapi bubur ayam, namun tetap tak mau. Hanya sekitar 3 suap, kedua adiknya datang. Adik-adiknya yang sebelumnya di luar kota. Adik pertama, laki-laki berumur 17an, adik kedua yang masih TK. Suasana haru kemudian terasa. Adik lelakinya pingsan, nangis histeris seakan tak percaya. Adik perempuannya ikut nangis di samping jenazah ayahnya.

Naomi langsung bangkit. Diraihnya adik perempuannya yang masih TK itu. Dipeluknya.

Naomi, yang tadinya ia tak bisa apa-apa. Tak bisa bangkit bahkan berbicara pun susah, tiba-tiba ia kuat. Ia tak tunjukkan kesedihannya. Saat adik-adiknya muncul, ia bagaikan orang paling tegar sedunia. Dinasehatinya adik laki-lakinya untuk tak berlarut-larut dalam kesedihan. Dihiburnya adik perempuan nya yang bahkan tak tahu kenapa ayahnya terbujur kaku saat itu.

Naomi, kakak tertua paling kuat yang sayang keluarga.

Meski dirinya pun sedih namun tak ia tunjukkan pada adik-adiknya. Meski dirinya sempat pingsan dan terpukul, ia tetap menasehati adik-adiknya untuk tak demikian.

Naomi, aku tahu mimpimu besar untuk membanggakan kedua orang tuamu. Kau rela pulang malam untuk latihan paduan suara, agar bisa menangkan lomba dan bahagiakan mereka. Namun, inilah jalannya.  Jalan yang Dia berikan. Jalan yang terbaik untuk semua. Kuatkan dirimu wahai Naomi, tetap berjuang. Banggakan Mamamu dengan mimpi besarmu itu.

Naomi,
bersabarlah.

Komentar

Postingan Populer