Subuh.

Dari sebuah desa kecil, berselimutkan kabut tebal embun basahi pucuk-pucuk pepohonan. Harum tanah sedikit lembab bekas hujan tadi malam.

Waktu itu pukul 5, dari surau di sebelah rumah kepala desa, adzan menggema menyeru syahdu bangunkan mimpi-mimpi semu.

Dari dalam rumah ada raga yang masih terbujur tidur pulas dengan alas tikar tembikar menarik selimut dekil, menggigil. Antara mimpi dan nyata, tak digubrisnya panggilan Sang Maha untuk menghadapNya saat itu juga. Lelah sebab kemarin bertemu klien di desa sebelah untuk proyek renovasi surau di samping rumahnya.

Tepat di depan rumah, derap langkah kaki kotor berlumpur, lelaki bersarung biru berlari penuh hati-hati sebab tanah sedikit licin, bekasnya jelas saat dipijak. Ia melangkah cepat sebab jarak surau ke rumahnya bukan dekat tapi ia tekad untuk datang tak terlambat agar sempat sholat sunnah muakkad. Meski ia pun lelah jua sebab kemarin menggarap sawah milik kepala desa, namun fisiknya tak kalah dengan tekadnya. Dari dalam surau tampak beberapa cahaya lampu minyak di tengah subuh nan gelap bilal kumandangkan adzan. Lelaki bersarung biru lega, meski sedikit terengah sebab ia sampai tepat pada waktunya.

Ayam berkokok bersahutan sebab matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Kabut tebal perlahan menipis, awan mulai tampakkan warna rona merah jingga. Pagi mulai menyingsing, dari sudut surau lelaki bersarung biru duduk bersila  memegang mushaf dengan kedua tangannya. Melantunkan ayat-ayat Tuhannya dengan indah. Syahdu bersahutan dengan suara ayam.

Sementara dari rumah di sebelah surau, pak kepala desa masih berselimut meringkuk tidur pulas tak hiraukan jarum jam yang terus berdetak cepat.
Menggilas sesiapa yang terlena berleha. Meninggalkan mereka yang tertipu indahnya mimpi di saat subuh.

Komentar

Postingan Populer