Re: Pulanglah
Aku dalam perjalanan pulang, dengan tenang bawa segepok pisang dan segoni ubi kayu. Ditemani semilir angin sepoi menerpa padi melambai-lambai mengiringi kepulanganku. Aku tahu, ada teh hangat dan ubi kayu menunggu. Harapanku hanya satu, bisa bawa berita gembira sehingga kita bisa bercerita tertawa bersama selamanya.
Tapi apa daya, dipersimpangan jalan aku terhalang. Oleh sesuatu yang tak bisa kuelakkan. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Akhirnya aku memutar arah.
Angin senja tak lagi mesra meraba, pun sepeda motor hitam butut tak lagi bersahabat menemani arungi jalan pulang. Sawah tak lagi hijau sebab padi mulai menguning.
Hari ke hari, waktu ke waktu tuan hanya bisa pasrah.
Pada akhirnya kita berpisah, di persimpangan jalan kita takkan pernah lagi jumpa, tuan tak akan lagi pulang.
Maaf puan.


Komentar
Posting Komentar