Hidup Ini Abstrak
hidup ini abstrak, dengan menambahkan setitik cat lagi ke dalamya malah akan membuatnya tambah abstrak dan nggak bisa dilihat makna sebenarnya.
hidup ini abstrak, udah ribet dan ruwet, jangan diperparah lagi!!
Halo peci putih baju kuning. Warna
yang terlalu mentel untuk anak seusiamu. Hari ini lagi-lagi hujan menyisakan
lumpur dan becek yang cukup dalam. Lihatlah itu, kakimu kotor karena lumpur,
ya? Basuhlah segera dengan air wudhumu. Aku (yang saat itu belum mengerti
batasan aurat) juga sedang berwudhu di sampingmu.
Lihat baju merahku ini. Baju tercantik
yang aku pakai tertulis “Dora The Explorer”. Bahkan rambutku ini seperti Dora,
telah basah karena gerimis tadi. Tolong jangan tersenyum seperti itu pada anak
SMP yang masih lugu ini. Kau masih SMP juga, kan? Atau kau ini sudah SMA. Oh
iya kau ini siapa? Lagi-lagi senyum malu-malumu yang memuakkan itu kau
tebarkan. Senyum yang sama seperti saat itu, kan? Saat kau tutup tirai hijab
pembatas mesjid. Tapi tak apalah, siapa saja pasti suka disenyumi oleh orang
asing yang baik sepertimu termasuk aku yang masih ingusan ini.
10 tahun sudah berlalu, ya.
Lihatlah, 100 hari lagi bulan Ramadhan datang. Aku merindukan saat-saat tarawih
itu. 10 tahun itu juga banyak perubahan di diriku ini. Aku bukan lagi si
pemerhati punggungmu yang berlalu meninggalkanku. Aku juga bukan lagi si gadis
yang memakai baju Dora. Aku juga telah mengerti mana batasanku dan kau. Aku pun
telah paham bahwa tempat wudhu wanita seharusnya di dalam tanpa terlihat
laki-laki. Tapi sepertinya aku masih orang yang sama seperti dulu,
memperhatikan sekelilingku. Maaf-maaf saja, aku selalu mencoba menundukkan
pandanganku saat ada kau.
Kau pun telah banyak berubah. Kau
sudah tak lagi menjadi si “penutup hijab pembatas mesjid yang suka tersenyum”
malah pandanganmu selalu tertunduk. Tampaknya kau telah berubah tapi tak banyak.
Lihatlah itu, kau masih orang yang sama dengan badan yang semakin kurus saja. Masih
datang ke mesjid untuk sholat 5 waktu. Lihatlah! Ada dua titik hitam di
keningmu. Tapi pecimu itu masih konsisten dengan warna dan model yang sama.
1, 2, 3, bahkan 9 atau 10 tahun
lalu pun masih tetap sama pada waktu dan tempatnya. Tapi maaf, di tahun ke 11
ini berbeda. Aku bukanlah si pemerhatimu lagi. Aku mendapati diriku harus lupa
padamu. Aku benci mengatakan alasan brengsek ketika aku masih ingusan bahwa “aku
rajin sholat ke mesjid dan banyak berubah karena terinspirasi olehmu.”
Ketika pikiran harus dipaksa lupa
pada kapan dan bagaimana tepatnya itu semua dimulai. Aku masih kelas 5 SD! Lewat
di depan rumah kakek-kakek yang sering senyum pas aku lewat jalan pintas tiap
pergi sekolah. Mungkin kau cucunya, ya. Sedang apa kau? Nyapu halaman? Oh lucunya
ada anak lelaki yang mengerjakan pekerjaan wanita. Lalu kau, tersenyum
malu-malu (-____- kesel! Hentikan senyum itu!)
Iya, iya! Itulah saat semuanya
dimulai. Tapi aku bukan lagi orang yang tersenyum pada bayanganmu yang terkena
sinar rembulan. Tertawa pada punggungmu yang menjauh pergi meninggalkanku. Karena
faktanya kehidupan ini menamparku sangat keras di pipi dan hati hingga membekas
bahwa kau tak akan mengingat kejadian bodoh itu dari sudut pandangmu yang
menganggap itu semua sebagai angin lalu saja. Kenyataan bahwa identitas diriku
pun kau tak akan pernah tahu itu. Jadi, yaaa kuputuskan untuk tak menghabiskan
energi pada hal yang tidak bermanfaat seperti ini. Tak akan lagi ku berharap
pada manusia. Karena mengharap pada manusia mengecewakan, namun berharap pada
Allah selalu menenangkan. Hihiihih :D
NB: Bangkitlah! Lupakan apa yang seharusnya dilupakan! Jangan berharap pada apa yang tak pasti. Hidup ini abstrak, nggak ada yang tahu ke depannya bakal gimana, kan? Udah jangan dibuat makin ribet, ruwet! KEEP MOVING ON! ^^


Komentar
Posting Komentar